Ganjar Pranowo rupanya tak bisa meninggalkan kebiasaan lamanya “kongkow” di warung angkringan. Kendati hari-hari dibelit kesibukan keliling di sejumlah daerah di Jawa Tengah untuk sosiliasasi, cagub dari PDI Perjuangan itu, Rabu (10/4) malam lalu masih menyempatkan makan sego kucing di warung angkringan, di pinggir jalan Pemuda Semarang.

Kehadiran Ganjar yang tiba-tiba itu sontak meynyedot perhatian pengunjung warung, tak terkecuali para [pedagang kaki lima (PKL) yang pada saat bersamaan baru terjadi penggusuran warung-warung mereka oleh satpol PP.

“Kami habis digropyok oleh petugas satpol PP Pemkot Semarang, Pak Ganjar, ini pertama disini sejak kami berjualan tahun 1998. Tapi kali ini kami belum diberitahu, belum diberikan surat peringatan sudah diusir dari daerah sini, Sumardi, salah satu pedagang menjelaskan pada ganjar Pranowo. Mendengar keluhan para pedagang, Ganjar Pranowo langsung menghubungi Plt walikota Semarang, Hendrar Priyadi untuk kroscek keluhan para pedagang tersebut. Usai menelpon, pria berambut putih ini berusaha memediasi permasalahn yang dikeluhkan PKL tersebut.

Mengingatkan Kebiasaan Lama

Ganjar Pranowo memang sengaja mendatangi warung angkringan tersebut. Ia ingin kembali merasakan suasana makan angkringan saat jaman kuliah dulu di Yogayakarta. Ganjar Pranowo sangat menikmati suguhan serta suguhan di warung itu. “ Saya teringat jaman kuliah dulu, hampir setiap malam saya suka lesehan sambil menikmati nasgitel ini,” Ujar pri yang suka musik cadas ini. Baginya, makan di warung kucing ini bisa melepaskan kepenatan dari aktifitas “blusukan” yang setiap hari ia lakukan. Juga dengan makan di warung itu, Ganjar Pranowo bisa mendekatkan langsung dengan rakyat umumnya. “ Dari warung inilah, saya bisa memotret serpihan-serpihan kehidupan masyarakat Semarang. Saya mendengarkan percakapan-percakapan sesama mereka. Menarik bagi saya, karena itu suara langsung dari kalangan masyarakat,” Tambahnya.

Ganjar Pranowo memang suka sekali makan di pinggir-pinggir jalan saat masih kuliah, bahkan saat ia sudah menjadi anggota dewanpun, sesekali ia menyempatkan diri makan di angkringan di daerah Kalibata. “Saya tidak bisa melepaskan kebiasaan saya yang sudah berjalan tahunan ini, makan di warung angkringan merupakan keasyikan tersebdiri,” Pria berambut putih ini tersenyum sambil menunjukan makanannya.

Bahkan menurut Wawan, salah satu sahabatnya, bahwa ganjar Pranowo saat ada kesempatan ke Yogya atau Semarang, selalu menyempatkan datang ke warung kucing atau angkringan. Tak ada yang istimewa disana, semua tampak biasa dan sederhana sekali, tetapi jangan salah sangka dulu, warung angkringan selelau diminati banyak lapisan masyarakat,” Tambah Wawan.

Ganjar Pranowo saat di angkringan selalu rindu dengan model masakannya. Dengan nasinya cuma sekepal lebih dikenal dengan nama nasi kucing dengan lauk yang biasa tetapi menjadikannya sangat luar biasa, sedap, enak, dan gurih. “Sekali makan saya bisa menghabiskan 3-4 bungkus dengan lauk yang cukup sederhana, yaitu kering tempe, ayam satu suir, atau ikan laut satu suir, dan sambal bajak yang begitu ngangeni. Hmm… pokoknya yummy… banget!” Ujarnya

Bagi Ganjar, warung angkiringan ini adalah tempat dimana ia bisa merefleksikan segala hal. Kehidupan masyarakat sekitarnya, riuh rendah omongan seputar politik, dan sebagainya.

“Dari Angkringan, saya bisa memotret situasi masyarakat setempat. Saya ingin dengar langsung dari mereka,” Ujar Ganjar Pranowo penuh semangat.